Saya bukanlah seorang yg ahli dlm bidang sastra namun saya pecinta sastra.
Lewat tulisan ini saya ingin sedikit mengulas ttg novel best seller yg dhasilkan
dr kedua pengarang, yg telah tersebut pada judul tulisan ini.
Kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy telah menghasilkan novel fenomenal AYAT-AYAT
CINTA yg sekarang filmnya siap diluncurkan di pasaran. Novel tersebut di
Indonesia belum pernah ada. Bersetting Mesir yg dituturkn dg sangat rinci oleh
Kang Abik. Mendobrak dan mampu menggugah kalbu pembaca. Bahkan saya menangis
saat membaca pada bagian kematian istri yg baru saja dnikahi Fahri. Kemudian
muncul novel-novel islami yg judulnya menggunakan kata CINTA oleh pengarang
lain. Latah melanda. Saya merasa akan menjadi bosan. Novel Dwilogi Pembangun
Jiwa Kang Abik keluar dg judul KETIKA CINTA BERTASBIH. Melihat judulnya saja
saya malas namun saya tetap membelinya. Siapa tahu berbeda dengan apa yg ada di
benak saya.
Ikal yg tidak lain Andrea Hirata adalah penulis pemula. LASKAR PELANGInya
muncul setelah KCBnya Kang Abik. Ikal tidak hanya membuat satu, tapi empat
sekaligus. Sebuah tetralogi. Saya tau LP dr acara Talk Show sebuah
stasiun TV. Dan saya kaget saat teman kos di Semarang memperlihatkan buku itu.
Saya pun membacanya. OK. BAGUS. Novel ini lain daripada yg lain. Sayang, saya
tidak sempat selesai membacanya krn hrs segera dikembalikan. Sampai di Solo
saya mencari LP di toko buku. Langsung beli 2. LP dan SANG PEMIMPI. Selesai
membaca LP, saya lanjutkan dg SP. Tidak lama kemudian saya jg membeli yg ketiga
EDENSOR. Saya sangat terkesan dg ketiga novel Ikal. Runtut, sistematis dan
kata2nya tidak membosankan. Sudah berulang kali saya membaca ketiga buku Ikal
namun belum merasa bosan. Bahkan saya merasa mendapat ilmu ttg bagaimana cara
mencirikan seseorang, mengekspresikan keterkejutannya dlm sebuah tulisan dan memilih
bahasa yg digunakan. KCB Kang Abik terlupakan.
KCB 2 Kang Abik keluar. Baru
membaca halaman pertama saja saya sudah bisa menebak. Dan memastikan novel ini
sungguh sangat membosankan. Namun tetap saja saya membelinya. Mungkin jika saya
membacanya lebih jauh lagi akan ada sesuatu yg berbeda. Tapi olala….semakin
jauh saya membaca, smakin saya tidak berminat membacanya. Kisahnya sendiri
sebenarnya bagus, sayang penggunaan bahasanya tidak saya sukai. Hal inilah yg
menyebabkan saya tidak membaca keseluruhan kalimat bahkan paragraf di setiap
bab. Berikut sedikit bagian yg saya
kritik :
- Pencirian
Ketika membaca KCB 1 halaman 1, saya merasakan
penggambaran suasana pantai Alexandria cenderung membosankan. Hambar. Kang Abik
menggambarkan secara biasa saja seperti kebanyakan pengarang lain. Datar dan
tidak istimewa. Seperti bukan Kang Abik yg menulisnya. Sangat berbeda dg novel
AAC nya dulu.
Ikal yg walopun masih sbg pemula dlm bidang
sastra, mampu menghadirkn bgmn reyotnya sekolah kopra, suasana taman sekolah
dan komunitas yg ada di dalamnya. Tak lupa dg mnyebut nama ilmiah binatang atau pohon taman. Apa adanya namun cerdas. Serasa saya bisa
melihat sendiri sekolah, taman dan kumbang pantat kuning. Penggambarannya yg
begitu sistematis serta kejelian pemilihan bahasanya mungkin didapat Ikal krn
warisan leluhurnya. Orang2 Melayu memang pandai bersilat kata.
- Judul
Kang Abik terjebak dlm pengulangan kata CINTA. Ada
sebuah pengharapan disana supaya novel keduanya jg sefenomenal AAC. Bahkan
pengarang lain jg ikut2an. Seperti novel SENANDUNG AYAT CINTA. Latah, Jelas.
Mungkin memang sifat orang Indonesia t.u org Jawa ikut2an arus. Mumpung baru
model. Tidak kreatif, Jelas.
Novel kedua dan ketiga Ikal SP jg E. Beda judul.
Novel keempat, MARYAM KARPOV yg sdg dlm proses penulisan pun demikian.
- Pengulangan
Pada hal 7 KCB 2, kalimat ”Langit dini hari selalu
memikatnya. Bahkan sejak ia masih kanak-kanak.” dan kalimat ”Azan subuh selalu
menggetarkan kalbunya. Fajar yg merekah selalu mengalirkan ke dalam hatinya
rasa takjub luar biasa pada Dzat yg menciptakannya.” pada hal 8, tertulis
persis sama bahkn digabung di hal 9. Juga kisah ttg ptemuan Anna dg Azzam
diulang-ulang di setiap kesempatan.
Pengulangan kalimat dan kisah ini sangat
membosankan. Ada baiknya
kisah pertemuan Anna dan Azzam itu cukup dceritakan satu kali saja. Biarkan
pembaca mengingatnya sendiri. Jika mereka lupa mereka bisa mbuka hal sebelumnya
utk kbl mengingat. Hal ini menunjukkan kecintaan pembaca pd novel yg sdg
dibacanya. Sebaliknya jk mereka lupa tapi tidak merasa perlu utk mbuka kbl hal
sebelumnya, menunjukkan novel yg dibaca tidak menarik. Akhirnya mereka tidak
menyelesaiknnya. Ataupun jk mereka menyelesaikannya, tidak muncul rasa puas sehingga
setelah selesai dibaca, mereka tidak akan membacanya utk yg kedua kali.
Tidak perlu melakukan penegasan sedemikian rupa dg
mlkn pengulangan yg mlh memunculkn persepsi penulis seakan mdikte pembaca.
Ataupun jika ingin melakukan pengulangan, gunakan kata2 yg berbeda.
Pada novel LP, SP dan E, masing2 kelanjutannya
mengulang dr yg sebelumnya namun dg bhs yg berbeda bahkan dg cerita yg tidak
didapt di buku sebelumnya. Sehingga pembaca tidak merasa mengulang tetapi mdpt cerita
baru.
- Ambigu/kalimat
tidak baku
Pada hal 9 KCB 2 kata BARU dlm kalimat ”Saat itu
jumlah santri baru 170.” ketika saya mbacanya persepsi saya yg baru adl
santrinya ternyata baru yg dimaksud adl MASIH. Kalimat itu tidak baku. Kata
baru seperti dlm kalimat itu lebih cocok dgunakn dlm percakapan sehari2 atau
dlm kalimat langsung.
Jg pd kata lantai di hal 10 dlm kalimat ”Lantai
atas masjid itu putih.” Persepsi saya yg putih adl ubinnya. Ternyt kalimat itu
menunjuk pd santri yg bermukena putih. Seharusnya diganti mjadi ”Ruangan atas
masjid yg bercat hijau lumut itu nampak putih.” Kalimat ini lebih enak utk dbaca dan tidak
menimbulkan salah persepsi.
- Hiperbola
Kata RATU pd prgrf 2 terasa berlebihan. Padahal
novelnya islami. Kalopun
novel biasa, tetap saja terasa berlebihan. Penulis seakan2 mendominasi, terlalu
dibuat2. Padahal posisi penulis sebenarnya adl sbg org ketiga krn ia tak
menggunakan kata aku dlm setiap kalimat. Kata ratu menunjukkan kesombongan
bahwa tidak ada santri atau manusia lain yg lebih cantik dr Anna.
- Tidak
fokus
Pada hal 11 diceritakan Kiai Lutfi sedang
membacakan kitab pd santrinya. Kemudian terpotong utk menyebutkan kiai lain yg
ahli dlm kitab masing2. Lima paragraf dhabiskan utk mnyebutkan nama2 kiai
seJawa Tengah. Apa yg sebenarnya ingin dsampaikan ke pembaca? Kiai Lutfi yg sdg
mengajar atau nama2 kiai seJawa Tengah?
- Iklan??!!
Pada hal 17 disebutkan merk motor HONDA SUPRA X. Wow,
saya tersenyum membacanya. Kok lugas sekali. Mugkin lebih baik jk dganti honda
keluaran terbaru. Itu sudah cukup mewakili bahwa motor yg dbawa Ilyas tidak
ketinggalan jaman.
- Mubadzir
Pada hal 10 pragraf 1 tertulis ”Delapan ratus
untuk santri putra dan 500 untuk santri putri.” Kata UNTUK lebih baik
dhilangkan krn tidak berguna dan cenderung ambigu. Seperti penilaian utk santri
putra dan putri padahal yg dimaksud adl jumlah santri putra dan putri. Bgitu
juga dialog ant Azzam dan Kang Paimo di hal 166 kalimat langsung ’”Mana Zam
alamat2nya?”’ sebaiknya dhilangkan karena itu sudah tersirat pd kalimat sebelum
dan sesudahnya shg mjd ”Sebelum menata
ratusan kardus itu Kang Paimo minta daftar alamat yang akan dikirim. Azzam lalu
menyerahkan daftar alamat yang akan dituju”.
- Nama sama
Penamaan yg sama terjadi pd tokoh Nafisah, sahabat
Anna dan pada tokoh Ibu Malikatun Nafisah, ibu Husna. Apalagi panggilan yg
disematkan pd Ibu Malikatun Nafisah ialah Bu Nafis. Hal ini bisa membuat
bingung jk suatu saat kedua tokoh tsb bertemu. Alangkah kebih baiknya jk suatu
tokoh tidak dberi nama yg sama.
- Salah
Judul
Bagian 13 yg berjudul PERTEMUAN DI KLEWER
sesungguhnya tidak tepat. Menurut persepsi saya pertemuan yg dimaksud adl
pertemuan keluarga Azzam dg Zumrah yg terjadi di wilayah Singosaren bkn di
Klewer.
- Salah
tulis, terbalik & perlunya tanda baca
Terdapat banyak salah tulis salah satunya adl kata
DANGANGAN di hal 9 yg seharusnya dagangan. Juga kata POJOK di hal 219 pada
kalimat ”Lalu dr pojok kedua matanya, aliran hangat meleleh ke pipi.”
seharusnya diganti sudut. Maka akan terasa lebih halus.
Kata terbalik pd kalimat ”Anna membaca air dg mata
berkaca2”.
Di beberapa kalimat perlu tanda baca salah satunya
koma (,).
Novel KCB ini sungguh mengecewakan. Ada kesan novel ini terburu2 untuk
dikeluarkan. Terbukti dr banyaknya salah tulis, tanda baca yg tidak ada dan
kaimat2 yg terbalik. Sangat berbeda dg AAC yg sgt sistematis, terperinci dan
tidak ada salah tulis. Layaknya Kang Abik dulu sangat bagus krn AAC tetapi di
novel keduanya ini dia jatuh, terjun bebas tak terkendali krn bny sekali
kekurangan di KCB.